Friday, December 4, 2015

*Hanya Ratu Yang Bisa Mendidik Seorang Pangeran

loading...


Ada sebuah quote masyhur, saya tidak tahu siapa yang pertama kali menuliskannya, bunyinya begini: Jika seorang laki-laki bisa menghormati serta memperlakukan pasangannya bagai seorang putri, maka tidak pelak lagi, laki-laki ini pernah dibesarkan oleh seorang ratu.
Bagaimana seseorang bisa punya sikap yang baik? Hei, itu tidak tumbuh dalam semalam, simsalabim, langsung baik sudah. Tapi proses panjang yang kadang berliku, menyakitkan, tapi tetap terjaga agar senantiasa bersikap baik. Bahkan kalaupun keluarganya berantakan, selalu ada kesempatan mewariskan pemahaman2 terbaik lewat cara lain, dititipkan lewat buku, lewat pendidikan formal, yang memastikan seorang anak laki-laki tumbuh baik, bisa menghormati wanita.
Nah, tulisan ini tidak akan membahas tentang galau, perasaan, saya mengutip quote tadi, justeru untuk membahas tentang hal lain yang lebih mendesak, seperti kejujuran, dermawan, kepedulian, dll.
Di Indonesia misalnya, kenapa sih di negeri ini banyak koruptornya? Itu pertanyaan yang menarik, jika semua orang mau memikirkannya. Kenapa sih kita terbiasa sekali melanggar peraturan--yang jelas sekali demi ketertiban bahkan keselamatan bersama? Kenapa sih kita sepertinya setiap hari harus menyaksikan tontonan menyesakkan soal dunia ini? Apa yang keliru?
Kalian mungkin mengikuti kasus "Papa Minta Saham", ketika elit politik dan pengusaha minyak di negeri ini direkam oleh petinggi Freeport, sedang mencatut nama-nama penting agar diberikan saham. Maka, bacalah berita hari ini, boss Facebook, si Zuckerberg, justeru hendak membagikan 99% sahamnya di facebook yang senilai 600 trilyun lebih (itu 1/5 hutang negara Indonesia nilainya). Ajaib sekali menyaksikannya, di negeri kita, orang2 berebut saham yang remah-remah saja dibanding saham facebook, di luar sana, Bang Zucki justeru hendak mendonasikan sahamnya. Apa yang membedakan isi kepala elit politik kita dengan boss facebook? Bukankah isinya sama saja? Mereka semua manusia.
Bukankah itu paradoks? Membingungkan. Saya tidak bilang bahwa boss facebook ini sempurna, alim pol, suci habis dalam setiap hal. Tidak juga, tapi dalam urusan harta benda, materi, dia jelas memiliki sikap, prinsip2 yang jauh lebih terhormat dibanding elit negeri ini.
Lebih menarik lagi, jika kita mau membuka mata, negeri ini religius loh, dengan 90% adalah penduduk muslim. Saya muslim, dan saya tidak pernah berhasil menemukan jawabannya, sungguh malang sebuah kaum, yang Nabi sendiri menasehati bahwa mencuri adalah perbuatan sangat hina, tapi kaum tersebut tetap bebal, angka korupsi tertinggi di dunia, sogok-menyogok, nepotisme dan lain-lain juga paling top sedunia. Apa yang keliru?
Entahlah, tapi jika orang-orang mau mulai memikirkannya, kita sungguh masih punya masa depan yang lebih baik. Saat orang-orang mulai peduli dan mengambil bagian memperbaiki pemahaman, kita sungguh masih punya kesempatan melahirkan generasi terbaik.
Maka, mari didik anak-anak kita menjadi jujur, aduh, sungguh mengharukan melihat anak2 yang sedari kecil sudah jujur. Didik mereka agar dermawan dan baik hati, tambahkan kepedulian, jadilah dia remaja yang menawan karakternya. Jangan suapi mereka dengan kecintaan atas dunia. Apalagi dengan pemahaman definisi materialistis. Ayolah, tidak usah cemas anak2 kita dapat ponten 6 sepanjang dia telah berusaha yang terbaik. Tapi sungguh paniklah saat anak2 kita membawa nilai 10, tapi itu hasil mencontek. Jangan sedih jika anak kita tidak jadi yang terhebat di sekolahnya, daripada dia menjadi anak populer dari hal-hal yang tiada manfaatnya, bahkan cenderung merusak.
Agama itu selalu tercermin dalam ahklak. Ini mungkin yang seringkali dilupakan kita. Didiklah karakter anak-anak kita agar seperti Nabi. Ingat loh, sejak kecil, Nabi itu punya julukan yang hebat sekali: terpercaya. Karena Nabi, tidak pernah berbohong, tidak pernah ingkar. Masa' kita pura-pura lupa fakta hebat ini?
Terakhir, jika kita menemukan seorang anak yang jujur, tekun, maka sungguhlah, anak ini pernah dibesarkan oleh keluarga yang jujur dan mengutamakan kerja keras pula. Tidak meleset lagi.
*Tere Liye

loading...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : *Hanya Ratu Yang Bisa Mendidik Seorang Pangeran

0 comments:

Post a Comment

loading...