Tuesday, November 17, 2015

Woman Story: The Journey of Wearing Hijab [1]

loading...


Fulanah memutuskan untuk berhijab syar'i [2] saat usia 17 tahun. Bukan keputusan yang mudah. Karena kedua orang tuanya melarang keras karena khawatir ikut aliran sesat dan memang saat itu jarang sekali ditemui wanita berhijab syar'i.

Sebelum menginjak usia 17 tahun, fulanah tidak putus asa meminta restu ortunya. Dan sambil mengumpulkan uang untuk bisa membeli baju-baju dan kerudung karena koleksi pakaiannya jarang yang menutup aurat. Tanpa rasa malu fulanah berjualan gorengan di sekolahnya yang dia ambil dari tetangganya.

Suatu hari saat fulanah datang dari sekolah membawa baju dan kerudung, ibunya melihatnya dan marah besar. Fulanah sedih dimarahi habis-habisan hingga ia shock dan pingsan. Alhamdulillah ala kulli haal, namun karena melihat hal itu ibunya jadi luluh akhirnya mengizinkan fulanah berhijab.

Sehari sebelum hari yang ditunggu tiba, dia gundah karena ayahnya masih tidak setuju. Fulanah menangis mengadu kegundahan hatinya pada Allah. Setelah itu dia tertidur dalam kesedihannya, Allah memberikannya mimpi yang indah. Fulanah bermimpi dipeluk beberapa bidadari yang berhijab besar serba putih sambil mengucapkan selamat padanya. Fulanah bangun dengan hati yang tentram dan senyum. Baginya itu adalah motivasi dari Allah agar dia tidak mundur.

Setelah berhijab ujian demi ujian dia lalui. Tidak dianggap anak oleh ayahnya hingga tidak mendapatkan uang saku maupun biaya sekolah. Fulanah tak gentar, ia membiayai dirinya dari hasil berjualan. Meski demikian fulanah tetap memuliakan orang tuanya meski selalu dicela. Karena melihat prestasi di sekolahnya, akhirnya ortunya luluh.
Namun di sekolah fulanah juga mendapat ujian, sering dipanggil ke BP (Bidang Penyuluhan) karena kerudung besarnya dan baju seragamnya tidak dimasukkan ke dalam rok karena menurutnya itu akan membentuk tubuh. Namun fulanah cuek saja, hingga gurunya bosan menasehatinya. Meski demikian fulanah sangat disayang banyak guru karena bagus akhlak nya. Saat foto ijazah, fulanah terpaksa memalsukan tandatangan bapaknya agar bisa foto dengan memakai kerudung.

Saat di masyarakat fulanah juga sempat jadi bahan gunjingan, dibilang kudisan dll karena pakaiannya tertutup dan berkaos kaki, namun karena bagusnya akhlak fulanah yang sering beramah tamah dan menolong tetangganya, akhirnya masyarakat hingga tetangga jauh pun baik kepadanya.

Ketika di kampus pun mendapat ujian, saat praktek lapangan mahasiswi dilarang berhijab syar'i karena dianggap akan mengganggu. Kembali dia sendirian menghadap dosennya, memberikan penjelasan bahwa itu tidak benar. Alhamdulillah dosennya percaya & fulanah mengajak teman teman nya agar turut membuktikan bahwa hijab tidak menghalangi untuk praktek lapangan. Sejak itu aturan kampus pun berubah.

# ketika kita menyatakan beriman kepada Allah pasti akan ada ujiannya. Jangan berputus asa
# manusia itu suka dengan akhlak yang baik, maka mari kita hiasi diri dengan akhlak mulia.
Alhamdulillah. Sekarang fulanah sudah bisa berhijab syar'i dengan tenang karena dukungan suaminya yang semanhaj (salaf) [3]
Semoga cerita di atas bisa menginspirasi.
Footnote:
[1] Kisah dari Fulanah yang tidak mau disebutkan namanya... Diambil dari carita pemenang kuis "Apa Ceritamu, Ukhti?"
[2] Penjelasan tentang pakaian muslimah bisa dipahami dari sini http://muslimah.or.id/65-jilbabku-penutup-auratku.html
[3] Penjelasan tentang Manhaj Salaf bisa disimak disini http://muslimah.or.id/1185-mengenal-manhaj-salaf.html

Via mbak nilda sahira

loading...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Woman Story: The Journey of Wearing Hijab [1]

0 comments:

Post a Comment

loading...