Wednesday, September 30, 2015

Tentang Penolakan

loading...

Oleh: Hanif Fakhrunnisa

Untuk engkau yang sedang dalam masa penantian..
Untuk engkau yang gundah menanti hari esok..
Terkhusus untuk makhluk penggenap adam.

Aku tak ingin mengguruimu.
Aku tak ingin seperti itu. Aku hanya ingin memotivasi kalian dan diriku sendiri.

Aku tau menanti itu merupakan hal yang cukup (untuk tidak mengatakan sangat) berat.
Beratnya penantian tentu masing-masing orang berbeda.

Tadi, aku membaca sebuah surat dari seorang perempuan yang sedang dalam masa pencarian. Ia telah menukar biodata dengan seorang laki-laki, dan bila berlanjut mereka akan melakukan ta'aruf.
Tapi sang laki-laki membatalkan dengan alasan yang sangat jujur, karena perempuan tersebut gemuk.
Aku terkejut membacanya.

Salah satu komentar yang kubaca, dan cukup membuatku lebih terkesiap, terkejut, dan ingin menangis.

"Tanpa ada niat mendiskriminasikan para wanita yang telah istiqamah memelihara agama dan dirinya, namun tidak Allah berikan kelebihan dalam segi fisiknya, semoga Allah berikan kalian pasangan yang baik di dunia dan akhirat. Tapi memang fitrah kami lelaki yg lebih suka fisik wanita daripada sisi lainnya, ketika datang wanita yang menghibahkan dirinya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم beliau melihat wanita tsb dari atas ke bawah, lalu menundukkan kepalanya, yang menunjukkan beliau tidak berhajat terhadap wanita tsb, walhasil Allah menyebut wanita tsb sebagai مؤمنة dalam QS Al-Ahzab:
وامرأة مؤمنة إن وهبت نفسها للنبي إن أراد النبي أن يستنكحها... 
Nabi صلى الله عليه وسلم tetap menolak wanita tsb padahal ia sdah mendapat tazkiyah dari Allah sbg wanita mukminah, seandainya penolakan Nabi صلى الله عليه وسلم tsb suatu maksiat, pasti Allah sdah menegur Nabi-Nya dan memerintahkannya untuk menikahi wanita tsb, ini menunjukkan walaupun fisik bukan segalanya tapi tetap mu'tabar dalam hal menerima atau menolak suatu pasangan."

"Ketika Saudah sdah semakin tua, Nabi صلى الله عليه وسلم berniat menceraikannya, namun Saudah tetap ingin menjadi istri Nabi صلى الله عليه وسلم, lalu Allah turunkan ayat:
وإن امرأة خافت من بعلها نشوزا أو إعراضا فلا جناح عليهما أن يصلح بينهما صلحا
Apabila seorang wanita takut suaminya melakukan nusyuz atau berpaling darinya maka tidak mengapa mereka mengadakan perjanjian... Lalu Saudah memberikan gilirannya kepada Aisyah, agar Nabi صلى الله عليه وسلم ridho dan tetap mempertahankan nya sbg istri, sdah ma'ruf bahwa Aisyah adalah istri Nabi صلى الله عليه وسلم yg paling cantik, hal ini juga menunjukkan bahwa kecantikan istri sedikit banyak juga mu'tabar dalam kelanggengan pernikahan. Bagaimana seorang suami bisa menunaikan kewajibannya menafkahi sang istri nafkah batinnya jika ia tidak suka terhadap fisik sang istri, secara psikologis ini pasti menjadi beban bagi suami, dan justru bisa berakibat buruk, ia malah jadi berbuat zalim kepada istrinya , Wallahu a'lam"

"Juga nasihat untuk para ikhwan maupun akhwat yang sedang atau akan melakukan proses khitbah, jika berlanjut ke jenjang pernikahan, alhamdulillah, jika tidak berkenan, menurut ana pribadi, alangkah baiknya tidak perlu menyebutkan alasan mundurnya kepada calonnya, karena bisa jadi alasan tsb bukan suatu aib/alasan yg kurang masuk akal bagi si calon, sehingga menjadi beban psikologis baginya di masa mendatang"

Aku terkejut ketika membaca kalimat bahwa laki-laki memang kebih cenderung menyukai fisik wanita. 
Dengan kenyataan bahwa diriku tidak cukup tinggi untuk standar wanita indonesia. (Oh Allah, aku sangat mensyukuri pemberianmu)
Entahlah, aku cukup sedih membacanya, maka kuberanikan diri untuk menuliskannya.

Setelah kurenungkan, kusadari bahwa Allah menyayangi kita. Sangat menyayangi kita.
Sekalipun begitu, Allah telah menjamin bahwa masing-masing kita akan memiliki jodoh.
Tenanglah... in syaa Allah, aku, kamu, dan dia juga akan menikah. Believe it!

Laki-laki sholih atau pura-pura sholih atau tidak sholih (entahlah) pasti punya standar masing-masing tentang ibu idaman untuk anak-anaknya.
Bahkan yang shalih pun punya kriteria perempuan itu harus minimal tinggi 165 cm, atau berkulit putih, atau cantik. Ya begitulah sampai kepadaku.

Rasaku sedih mendengarnya pertama kali, bhakan hingga saat ini. Hehhehe i am sorry for my sad.

Sebenarnya bukan hal yang baru bagiku mendengar fakta itu. Tapi yang baru kutahu, bahwa laki2 yang shalih atau berusaha shalih pjn punya standar fisik.

"Yaa Rabb, sungguh fisik ini milik Allah. Tugas kami hanya menjaga dan merawatnya. Tapi sebagian mereka menolak kami karena alasan fisik." Begitu batinku.

Sekarang, lagi-lagi aku tersadar bahwa aku masih jauh dari memahami agama ini. Yang begitu saja membuatku sedih. Iya, aku sadar bahwa kesedihanku karena kebodohanku dalam agama.
Aku berharap bisa memahaminya.

Tapi aku paham, ketika perempuan mengetahui alasan laki-laki menolaknya karena fisik, tentu saja itu sangat menyakitkan. Aku pun sedih, sangat sedih.

Tenang, tenang, dear...
Jodoh sudah dijamin Allah.
Tugas kita mencari, ikhtiar, doa sekaligus memperbaiki diri.
Hope it! Allah always love you!
Believe Allah!
Allah gak pernah ingkar janji!

Ayo memperbaiki diri, gals..
Tapi luruskan niat, bahwa perbaikanmu itu bukan untuk dia ya...
Luruskan niat karena Allah. ^^


Rabbi habli minash shaalihiin.
Rabbi laa tadzarnii fardan wa anta khairul waaritsin.
Rabbanaa hablanaa min azwajinaa aa dzurriyatinaa qurrata'ayun wa ja'alnaa lilmuttaqiina imaamaa


loading...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Tentang Penolakan

0 comments:

Post a Comment

loading...