Sunday, August 2, 2015

Isu Hangat, Poligami

loading...

Oleh: Nurhayati Pujiastusi
Saya dan saudara lainnya menemukan sesuatu yang berbeda di surat menikah Bapak dan Ibu. Surat menikah 55 tahun yang lalu, ternyata memiliki syarat yang tidak dimiliki oleh surat nikah zaman sekarang. Bunyinya yaitu hanya boleh memiliki satu istri. Alias tidak boleh memiliki madu.
Bapak model lelaki yang tidak mudah bergaul. Hidupnya yang susah membuat Bapak hanya berpikir menikah, punya anak lalu membiayai anak dan istri.
Sedikit tambahan uang dari pekerjaan sampingan, selalu dibelikan perhiasan emas untuk Ibu.
Alat-alat make up untuk Ibu juga dibelikan, walau pun tidak pernah dipakai karena Ibu perempuan polos yang bedaknya dari zaman saya bayi sampai sekarang tetap sama. Bedak tabur bermerek M...
Di beberapa bulan terakhir, bahkan di beberapa hari terakhir pesan ke anak-anak adalah untuk tidak mengambil hak Ibu. Ada tanah warisan milik Bapak yang harus dibagi. Tapi jangan pernah merecoki tanah milik Ibu selama Ibu masih ada.
Pernikahan yang langgeng. Bapak yang lurus. Tapi bukan berarti membuat mata saya buta dan dibutakan dengan poligami. Apalagi menentang poligami.
Belum lama Ibu cerita, tentang orang yang dikenalnya yang baru meninggal dunia. Istrinya kecewa setengah mati, karena merasa dibohongi. 30 tahun menikah. Tapi ternyata setelah suaminya meninggal dunia, istri itu baru tahu, kalau suaminya sudah punya istri lain dan anak yang umurnya 25 tahun.
Setelah ditelusuri ternyata rumah istri kedua itu tidak begitu jauh dari rumah istri yang pertama. Dan anak-anak dari istri pertama sebenarnya sudah tahu bapaknya menikah lagi, tapi mereka menyembunyikan rapat-rapat dari si Ibu, agar Ibu tidak sakit hati.
Di tempat lain, di rumah kontrakkan, di rumah susun dan apartemen, banyak kasus yang lain. Para gadis muda rela menjadi simpanan dan bahkan keluarganya yang mengantar. Saya tahu karena saya pernah tinggal di rumah susun dan tiga rumah dari empat rumah yang ada di lantai yang sama, dihuni oleh perempuan malam dan istri simpanan.
Di tempat yang lain juga, di bilangan Jakarta Pusat, ada anak remaja dan tante-tante yang rela dibiayai hidupnya dan diajak berkencan dengan seseorang. Demi uang mereka melakukannya.
Salah satu eyang yang masih kerabat, konon katanya berwajah tampan,digilai banyak perempuan. Ada perempuan yang sampai hilang ingatan karena mengejar-ngejar beliau. Tapi masa tuanya mengenaskan. Karena anak dan istrinya membenci dan tidak mau mengurusnya sampai mati.
Seorang yang saya kenal bahkan menjadi istri simpanan pegawai kecamatan. Dan ternyata banyak juga dari para pegawai itu yang memiliki dua istri tanpa sepengetahuan istri pertama.
Istri kedua yang lebih cantik dan lebih muda, mengharapkan jalan pintas. Ada yang tahu usia pernikahannya tidak mungkin langgeng, karena itu mereka mengeruk semua harta lelaki untuk diinvestasikan dalam bentuk rumah dan kendaraan.
Yang saya tahu, saya tidak berhak menghakimi orang yang melakukan poligami.
Saya juga tidak boleh menghakimi perempuan yang meminta suaminya menceraikan madunya.
Atau justru perempuan yang bertahan terus menjadi istri yang baik untuk suami yang melukai hatinya.
Masing-masing dari kita punya jalan hidup yang berbeda, pengalaman berbeda dan masa lalu yang berbeda, juga pilihan hidup yang berbeda.
Maka miris ketika melihat isu poligami lalu dipukul rata.
Alim ulama yang berpoligami disamakan dengan artis yang poligami.
Lelaki yang menjaga agamanya dengan menjalankan sunnahnya, lalu ia melakukan poligami, disamakan dengan lelaki yang bahkan shalat pun mereka tidak pernah.
Perempuan yang bertahan dengan suaminya yang berbagi dengan perempuan lain dengan alasan surga, sering dianggap perempuan bodoh.
Kita selalu suka melihat segala sesuatu di permukaan saja, tanpa mau menyelam lebih dalam lagi.
Seorang pemilik pondok pesantren yang menikahi santrinya, pasti dianggap suka daun muda. Tapi ternyata ia menikahi karena si santri ini kena kanker stadium 4, dan Kyai ini membiayai pengobatannya. Agar tidak terjadi fitnah, maka solusi menikahi perempuan itu adalah solusi terbaik.
Seorang istri mengantar suaminya menikah lagi. Awalnya sakit hati, tapi ia ikhlas.
Ternyata suaminya menikahi perawan tua, yang jadi bahan gunjingan di kampungnya karena dianggap tidak laku.
Yang menggunjing akan selalu beranggapan bahwa yang dinikahi itu perawan. Tanpa pernah berpikir lebih jernih lagi.
Akan selalu ada ujian dalam hidup ini.
Ujian orang yang satu dengan yang lain pasti berbeda.
Ujian orang yang berada di lereng gunung, tentu berbeda dengan orang yang berada di puncak gunung.
Maka saya setuju ucapan guru mengaji saya.
"Poligami itu takdir. Jadi jika memang takdir kita sudah digariskanNYA adalah dipoligami, maka ikhlaslah menerima. Dan untuk ibu-ibu yang memang tidak ditakdirkan untuk dipoligami, jangan juga malah melecehkan yang dipoligami."
Setiap takdir adalah rahasia Sang Pemegang Kehidupan.
Jangan hanya karena kita merasa sempurna semuanya, lantas beranggapan bahwa seorang perempuan itu semestinya bla bla bla sesuai standar kita. Atau seorang lelaki yang sempurna itu harusnya bla bla bla seperti standar kita tentang kesempurnaan lelaki.
Apa jadinya jika mulut nyinyir kita dijawab Allah dengan mengubah takdir kita, sehingga kita akhirnya menjadi sosok yang harus menjalani takdir yang kita nyinyiri?
Maka itu bacalah.
Datangi majlis taklim. Bertanya pada yang paham ilmunya.
Di majlis taklim kita akan bertemu banyak orang berbeda, berbeda pemahaman, tapi mau untuk terus belajar menjadi orang yang lebih baik lagi.
Rugi jika seusai Ramadhan, kita hanya berputar pada isu-isu dangkal, saling hujat tapi tidak berujung pada hikmah. Belum tentu kita bertemu Ramadhan berikutnya.

loading...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Isu Hangat, Poligami

0 comments:

Post a Comment

loading...