Sunday, July 26, 2015

Ketika Ditanya Kenapa

loading...

Diri ini lebih sering bertanya 'kenapa' daripada pertanyaan yang lain. Tapi giliran ada yang bertanya alasan, malah bingung njawab.

Ceritanya pulang ke rumah lama. Terus tetangga deket datang dan bertanya, "dulu kenapa sih bisa kuliah di sana?"
Jawaban spontan,"takdir Allah, mbak. Qadarullah Nisa masuk Sastra Arab."

Waaaah jelas aja, mbak itu gak puas. Hehehehe
Tapi itu jawaban paling tepat menurutku di saat seperti itu.
Bukan tak punya alasan, tapi tak bisa mengungkapkan. #ehhh
Males berformal-formal ria.
Atau mengatakan isi hatiku, haaaa itu biarlah Allah dan daku yang tahu kenapa bisa memilih ini.

Selanjutnya, tetangga itu bulang,"lhooo bukannya udah ndaftar di pertanian?"
Senyum dan berbinar, "iya, mbak.. bener. Udah mbayar malah, tinggal masuk. Tapi alhamdulillah juga diterima di Sastra Arab, akhirnya milih yang ini dan meninggalkan pertanian."
Jawaban ini justru membuatnya semakin bertanya tentang alasan.

Huhuhuu
Sedikit kapok, sering bertanya alasan.
Ah, aku pun sudah tahu bahwa sebagian besar pekerjaan itu tidak butuh alasan.
 Seperti mengapa sebagian orang tidak butuh alasan untuk mencintai Allah. Atau mengapa sebagian orang menghabiskan waktunya untuk membaca Alquran, tapi ia tak butuh alasan bukan tak ada alasan, tapi tak ingin diungkapan.

Ya, kenapa terkadang tidak bisa terjawab.

Jadi inget kata Pak Rizqa, pak dosen,"ketika saya menikahi istri, saya tidak punya alasan. Hehhehe tapi saya yakin dia adalah jodoh saya. Saya harus nikahi dia, alasannya bisa dipikir sambil jalan."
Huhuhu inspirasi
---○○○---

loading...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Ketika Ditanya Kenapa

0 comments:

Post a Comment

loading...